SELAMAT DATANG

"Selamat Datang di blog saya, semoga blog ini dapat bermanfaat bagi anda"
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

21 November 2025

Sejarah Silsilah Keluarga Besar TONGA

Tradisi masyarakat adat di Halmahera umumnya menggunakan sistem garis keturunan patrilineal (dari pihak ayah) yang mengutamakan keturunan laki-laki sebagai penerus marga atau penggunaan nama kelompok sosial masyarakat tertentu. Karena laki-laki sebagai pembawa marga atau penerus keturunan, maka penerapan model primogenitur agnatik dalam pemberian hak waris, lebih dominan, yaitu hak waris atau takhta lebih diutamakan kepada keturunan laki-laki, dan perempuan menjadi perhatian berikutnya.

Karena tradisi di Halmahera umumnya sistem patrilineal, maka silsilah atau garis keturunan dari suatu kelompok masyarakat dapat diidentifikasi dan disusun menurut marga (nama keluarga besar). Selama masih ada anak laki-laki dalam suatu keluarga, maka marga dari keluarga tersebut akan selalu ada dalam garis keturunan berikutnya,, marga tersebut dapat berubah jika ada kondisi atau keputusan tertentu.

Terdapat banyak marga atau nama keluarga yang ada di Halmahera, salah satu adalah marga TONGA. Asal mula rumpun kelompok keluarga besar "TONGA" yaitu Nenek moyang terdahulu bernama Hajima yang memiliki 1 anak bernama Gita, selanjutnya Gitu memiliki 4 anak laki-laki yaitu Tonga, Tawar, Bobara, Sapela. Namun saat itu, umumnya kelompok masyarakat masih belum menggunakan marga.

Keluarga besar TONGA, aslinya berasal dari daerah Loloda di pesisir Utara pulau Halmahera. Dimulai pada awal abad ke-17, terdapat beberapa kelompok masyarakat adat di Halmahera (Tobelo, Galela, dan Loloda) yg salah satu kelompoknya dipimpin oleh seorang "kapita" (pemimpin pasukan) bernama Tonga.

Tonga merupakan seorang tegas dan pemberani yang paling disegani oleh anggota kelompoknya, karena postur tubuhnya yang tinggi dan besar dengan ukuran lebar dada mencapai 7 jengkal orang dewasa. Karena postur tubuhnya yang besar, maka saat itu biasanya dipanggil dengan sebutan "Sanga Tumding" yang dalam bahasa Loloda artinya tujuh jengkal.

Saat menjadi seorang kapita Tonga sudah berkeluarga dengan memiliki seorang istri dan 4 anak laki-laki. Keempat anak tersebut masing-masing yaitu: 

  1. Kakek dari kakek Ruben Tonga
  2. Kakek dari kakek Gerson Tonga
  3. Kakek dari kakek Awo Tonga
  4. Kakek dari kakek ... Tonga (kakek buyut dari Petrus Tonga)

Keempat anak laki-laki tersebut masing-masing memiliki 1 anak laki-laki, dan juga 1 cucu laki-laki, namun memiliki beberapa cucu perempuan. Keempat cucu laki-laki tersebut yaitu: Ruben Tonga, Gerson Tonga, Awo Tonga, dan *... Tonga. Sehingga keempat anak dari Tonga (moyang pertama) tersebut yang selanjutnya menjadi cikal bakal penerus keturunan keluarga besar TONGA yang ada di wilayah Halmahera dan sekitarnya.

Saat terjadi pergolakan, beberapa kelompok termasuk kelompok yang dipimpin oleh Tonga melakukan "Canga" (artinya bersatu dalam kelompok masyarakat adat untuk saling melindungi dari bahaya ancaman orang luar/asing) dengan berlayar untuk berperang dan menguasai sebagian daerah di wilayah Sulawesi Tengah (daerah Banggai dan sekitarnya), wilayah Sulawesi Tenggara (daerah Bau-Bau, Kendari dan sekitarnya), wilayah Flores, wilayah Filipina Selatan, dan daerah kepulauan kecil di Pasifik Selatan (mungkin menjadi cikal bakal dari nama negara Tonga di wilayah Pasifik Selatan). 

Kelompok Canga telah beberapa kali menguasai beberapa wilayah tersebut. Saat menguasai di wilayah Sulawesi Tenggara, Tonga kawin lagi dengan seorang wanita Kendari dan memiliki 2 anak laki-laki. Kedua anak laki-laki tersebut yang menjadi cikal bakal penerus keturunan keluarga besar TONGA yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara (daerah Kendari dan Konawe), Sulawesi Tengah (daerah Banggai, Poso, dan Palu), dan sekitarnya.

Dalam penguasaan selanjutnya ke wilayah pulau Flores, Tonga juga kawin lagi dengan seorang wanita Flores dan memiliki 1 anak laki-laki. Anak laki-laki tersebut yang menjadi cikal bakal penerus keturunan keluarga besar TONGA yang ada di wilayah Flores di Nusa Tenggara Timur.

Dalam beberapa tahun penguasaan wilayah oleh pasukan Canga, Tonga yang merupakan moyang dari semua keluarga besar TONGA, serta sebagian anggota kelompoknya, telah beberapa kali pergi-pulang dari wilayah Halmahera ke wilayah-wilayah kekuasaan tersebut, sehingga pernah menceritakan peristiwa-peristiwa itu kepada sebagian masyarakat Loloda, termasuk kepada orang-orang tua dari keluarga besar TONGA yang ada di Halmahera, sehingga cerita tersebut tetap dikenang dan terus diceritakan dalam keluarga besar TONGA di Halmahera.

Sekitar tahun 1990-1995, Gerson Tonga (kakek kami) pernah dan sering bercerita tentang kisah dari moyang yang bernama Tonga tersebut, dan pernah menyampaikan bahwa selain di wilayah Halmahera, keluarga besar TONGA juga ada di wilayah Sulawesi, Flores, dan sekitarnya, tetapi sebagian keluarga belum pernah bertemu.

Jadi, semua keluarga besar TONGA adalah bersaudara yang berasal dari satu garis keturunan nenek moyang yaitu TONGA.

18 Januari 2022

Sejarah Negara Tonga



Negara Tonga merupakan sebuah negara dengan sistem pemerintahan berbentuk Kerajaan yang dikenal dengan nama Kerajaan Tonga, dan terdiri atas gugus kepulauan yang terletak di barat daya Samudra Pasifik.


Di Tonga terdapat sebuah palung yaitu Palung Tonga yang merupakan palung samudera yang terletak di barat daya Samudra Pasifik. Palung Tonga adalah palung terdalam dari Belahan Bumi Selatan dan yang terdalam kedua di Bumi.


Titik terdalam Palung Tonga adalah kedalaman Horizon yang terletak pada 23.25833°S 174.726667°B, 10.800 ± 10 m (35.433 ± 33 kaki) menjadikannya titik terdalam di Belahan Bumi Selatan dan terdalam kedua di Bumi setelah Kedalaman Challenger di Palung Mariana. Dinamai kedalaman Horizon karena kapal penelitian Horizon dari Lembaga Oseanografi Scripps adalah kru yang menemukan kedalaman ini pada bulan Desember 1952.


Apabila ditelusuri sejarahnya, Tonga merupakan kerajaan yang telah dipimpin di bawah pemerintahan oleh raja selama berabad-abad.


Setelah menjalin kontak dengan bangsa Eropa pada awal abad ke-17, Tonga akhirnya menjadi negara persemakmuran Inggris.


Sejarah awal


Nenek moyang orang-orang Tonga adalah bangsa Lapita yang datang dari Asia Tenggara.


Sekitar 3.000 tahun lalu, mereka bermigrasi melalui Semenanjung Melayu hingga akhirnya tersebar di pulau-pulau Pasifik selatan.


Di Tonga, bangsa Lapita mendirikan pemukiman di Toloa, dekat Bandara Internasional Fua'amotu saat ini, dan di Heketa, di tepi timur laut Tongatapu.


Sejak saat itu, mereka mengembangkan kebudayaan khas yang masih dilestarikan masyarakat Tonga hingga sekarang.


Kedatangan bangsa Eropa

Kontak awal bangsa Eropa dengan Tonga terjadi pada 1616, ketika navigator Belanda, Wilhelm Schouten dan Jacob Le Maire, menemukan Niuas, pulau kecil paling utara di kepulauan Tonga.


Namun, pertemuan mereka dengan penduduk pulau Niuas hanya berjalan singkat karena terjadi perselisihan.


Pada 1643, Belanda memperluas penjelajahan ketika Abel Tasman berhasil mengunjungi Kepulauan Tonga di Ata, Eua, dan Tongatapu, pulau terbesar di Tonga.


Tidak hanya itu, Abel Tasman bahkan melakukan hubungan dagang dengan masyarakat setempat.


Kepulauan yang Bersahabat

Bangsa Eropa selanjutnya yang berhasil mencapai Tonga adalah Kapten James Cook.


Navigator dan penjelajah asal Inggris tersebut mengunjungi Pulau Tongatapu dan Eua pada 1773.


Pada 1777, James Cook kembali dan menghabiskan waktu dua bulan untuk menjelajahi serta memetakan kepulauan Tonga.


Ketika menjalankan misinya, kartografer ternama ini dibuat terkesan oleh keramahan penduduk Tonga.


Oleh karena itu, James Cook menjuluki Tonga sebagai Kepulauan yang Ramah. Julukan ini terus melekat pada Kerajaan Tonga hingga sekarang.


Gugusan kepulauan Vava'u di Tonga utara ditemukan oleh navigator Spanyol, Don Francisco Antonio Mourelle, pada 1781.


Mourelle bahkan mengklaim pulau-pulau indah di Tonga atas nama Spanyol. Sejak itu, banyak pedagang Eropa yang datang ke Tonga hingga timbul ketegangan.


Selain berdagang, banyak kapal yang menuju perairan Tonga untuk menjalankan misi perburuan paus.


Pulau-pulau di Tonga yang kerap dikunjungi adalah Ata, Eua, Ha'apai, Tongatapu, dan Vava'u.


Dibentuk kerajaan

Kepulauan Tonga disatukan menjadi kerajaan pada 1845 oleh Taufaahau atau Raja Tupou I.


Tiga dekade berselang, atau pada 1875, Tonga resmi menjadi monarki konstitusional dengan bantuan dari misionaris Shirley Waldemar Baker.


Berdasarkan Perjanjian Persahabatan yang dibuat pada 18 Mei 1900, Kerajaan Tonga menjadi negara yang dilindungi (protektorat) Inggris.


Meski semua urusan luar negeri Tonga diambil alih oleh Inggris, Tonga tidak pernah melepaskan kedaulatannya kepada kekuatan asing mana pun.


Di bawah perlindungan Inggris, Tonga tetap berusaha mempertahankan kedaulatannya dan tetap menjadi satu-satunya negara Pasifik yang menjaga pemerintahan monarkinya.


Pada 1965, Ratu Salote Tupou III memutuskan untuk mengakhiri Perjanjian Persahabatan dengan Inggris.


Sebagai gantinya, Kerajaan Tonga menjadi negara persemakmuran Inggris sejak 4 Juni 1970 dan menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 1999.


Pemerintahan Kerajaan Tonga

Kerajaan Tonga terdiri dari sekitar 170 pulau yang dibagi menjadi tiga kelompok pulau utama, yaitu Tongatapu di selatan, Ha'apai di tengah, dan Vava'u di utara.


Ibu kota Tonga adalah Nuku'alofa yang berada di Pulau Tongatapu. Semua tanah di Tonga dimiliki oleh monarki, di mana pertanian menjadi andalan perekonomian negaranya.


Kepala eksekutif Tonga adalah raja, yang memerintah melalui konsultasi erat dengan perdana menteri dalam segala hal kecuali peradilan.


Raja juga memegang kekuasaan untuk menunjuk hakim, mengangkat dewan penasihat, dan meringankan hukuman penjara.


Sejak 2010, Tonga mengambil langkah tegas dari monarki absolut tradisional menuju monarki konstitusional yang lebih demokratis.


Saat ini, Raja Tupou VI merupakan penguasa Kerajaan Tonga yang berkuasa sejak 2012.


Referensi

www.kompas.com

Kohn, George C. (2008). Encyclopedia of Plague and Pestilence: From Ancient Times to the Present. Amerika: Infobase Publishing.