Tradisi masyarakat adat di Halmahera umumnya menggunakan sistem garis keturunan patrilineal (dari pihak ayah) yang mengutamakan keturunan laki-laki sebagai penerus marga atau penggunaan nama kelompok sosial masyarakat tertentu. Karena laki-laki sebagai pembawa marga atau penerus keturunan, maka penerapan model primogenitur agnatik dalam pemberian hak waris, lebih dominan, yaitu hak waris atau takhta lebih diutamakan kepada keturunan laki-laki, dan perempuan menjadi perhatian berikutnya.
Karena tradisi di Halmahera umumnya sistem patrilineal, maka silsilah atau garis keturunan dari suatu kelompok masyarakat dapat diidentifikasi dan disusun menurut marga (nama keluarga besar). Selama masih ada anak laki-laki dalam suatu keluarga, maka marga dari keluarga tersebut akan selalu ada dalam garis keturunan berikutnya,, marga tersebut dapat berubah jika ada kondisi atau keputusan tertentu.
Terdapat banyak marga atau nama keluarga yang ada di Halmahera, salah satu adalah marga TONGA. Asal mula rumpun kelompok keluarga besar "TONGA" yaitu Nenek moyang terdahulu bernama Hajima yang memiliki 1 anak bernama Gita, selanjutnya Gitu memiliki 4 anak laki-laki yaitu Tonga, Tawar, Bobara, Sapela. Namun saat itu, umumnya kelompok masyarakat masih belum menggunakan marga.
Keluarga besar TONGA, aslinya berasal dari daerah Loloda di pesisir Utara pulau Halmahera. Dimulai pada awal abad ke-17, terdapat beberapa kelompok masyarakat adat di Halmahera (Tobelo, Galela, dan Loloda) yg salah satu kelompoknya dipimpin oleh seorang "kapita" (pemimpin pasukan) bernama Tonga.
Tonga merupakan seorang tegas dan pemberani yang paling disegani oleh anggota kelompoknya, karena postur tubuhnya yang tinggi dan besar dengan ukuran lebar dada mencapai 7 jengkal orang dewasa. Karena postur tubuhnya yang besar, maka saat itu biasanya dipanggil dengan sebutan "Sanga Tumding" yang dalam bahasa Loloda artinya tujuh jengkal.
Saat menjadi seorang kapita Tonga sudah berkeluarga dengan memiliki seorang istri dan 4 anak laki-laki. Keempat anak tersebut masing-masing yaitu:
- Kakek dari kakek Ruben Tonga
- Kakek dari kakek Gerson Tonga
- Kakek dari kakek Awo Tonga
- Kakek dari kakek ... Tonga (kakek buyut dari Petrus Tonga)
Keempat anak laki-laki tersebut masing-masing memiliki 1 anak laki-laki, dan juga 1 cucu laki-laki, namun memiliki beberapa cucu perempuan. Keempat cucu laki-laki tersebut yaitu: Ruben Tonga, Gerson Tonga, Awo Tonga, dan *... Tonga. Sehingga keempat anak dari Tonga (moyang pertama) tersebut yang selanjutnya menjadi cikal bakal penerus keturunan keluarga besar TONGA yang ada di wilayah Halmahera dan sekitarnya.
Saat terjadi pergolakan, beberapa kelompok termasuk kelompok yang dipimpin oleh Tonga melakukan "Canga" (artinya bersatu dalam kelompok masyarakat adat untuk saling melindungi dari bahaya ancaman orang luar/asing) dengan berlayar untuk berperang dan menguasai sebagian daerah di wilayah Sulawesi Tengah (daerah Banggai dan sekitarnya), wilayah Sulawesi Tenggara (daerah Bau-Bau, Kendari dan sekitarnya), wilayah Flores, wilayah Filipina Selatan, dan daerah kepulauan kecil di Pasifik Selatan (mungkin menjadi cikal bakal dari nama negara Tonga di wilayah Pasifik Selatan).
Kelompok Canga telah beberapa kali menguasai beberapa wilayah tersebut. Saat menguasai di wilayah Sulawesi Tenggara, Tonga kawin lagi dengan seorang wanita Kendari dan memiliki 2 anak laki-laki. Kedua anak laki-laki tersebut yang menjadi cikal bakal penerus keturunan keluarga besar TONGA yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara (daerah Kendari dan Konawe), Sulawesi Tengah (daerah Banggai, Poso, dan Palu), dan sekitarnya.
Dalam penguasaan selanjutnya ke wilayah pulau Flores, Tonga juga kawin lagi dengan seorang wanita Flores dan memiliki 1 anak laki-laki. Anak laki-laki tersebut yang menjadi cikal bakal penerus keturunan keluarga besar TONGA yang ada di wilayah Flores di Nusa Tenggara Timur.
Dalam beberapa tahun penguasaan wilayah oleh pasukan Canga, Tonga yang merupakan moyang dari semua keluarga besar TONGA, serta sebagian anggota kelompoknya, telah beberapa kali pergi-pulang dari wilayah Halmahera ke wilayah-wilayah kekuasaan tersebut, sehingga pernah menceritakan peristiwa-peristiwa itu kepada sebagian masyarakat Loloda, termasuk kepada orang-orang tua dari keluarga besar TONGA yang ada di Halmahera, sehingga cerita tersebut tetap dikenang dan terus diceritakan dalam keluarga besar TONGA di Halmahera.
Sekitar tahun 1990-1995, Gerson Tonga (kakek kami) pernah dan sering bercerita tentang kisah dari moyang yang bernama Tonga tersebut, dan pernah menyampaikan bahwa selain di wilayah Halmahera, keluarga besar TONGA juga ada di wilayah Sulawesi, Flores, dan sekitarnya, tetapi sebagian keluarga belum pernah bertemu.
Jadi, semua keluarga besar TONGA adalah bersaudara yang berasal dari satu garis keturunan nenek moyang yaitu TONGA.
