Memilih model regresi terbaik perlu dilakukan dalam suatu penelitian, agar dapat dilakukan pengambilan keputusan terbaik.
Sebagai ilustrasi: Data lulusan siswa SMA yang melanjutkan studi pada Universitas di Amerika. Data memuat hubungan antara skor ujian scholastic matematika, skor ujian scholastic bahasa inggris, indeks prestasi matematika dan indeks prestasi bahasa inggris dengan indeks prestasi akademik tahun pertama. (Sumber data: Akhmad Fauzy, Jurnal LOGIKA, Volume 3, No.4, 1999)
Selanjutnya berdasarkan data yang ada, akan dilakukan pemeriksaan model regresi terbaik, dengan memanfaatkan program aplikasi Minitab_15.
Kriteria. Beberapa kriteria tentang model/persamaan regresi terbaik yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam mengevaluasi nilai-nilai pada table 1, antara lain :
1). Nilai R^2 akan mempunyai nilai yang terbesar dan pola peubah tersebut konsisten dengan persamaan
2). Nilai S^2 akan mempunyai nilai yang terkecil
3). Nilai Cp Mallows akan mempunyai nilai yang hampir sama dengan banyaknya jumlah parameter, termasuk β_0. Nilai Cp Mallows pada persamaan regresi yang melibatkan semua peubah penjelas tidak dapat dipergunakan sebagai pegangan dalam memilih persamaan regresi terbaik, karena nilai dari Cp Mallows tersebut akan sama dengan jumlah parameter (termasuk β_0).
Analisis Model Regresi Terbaik. Selanjutnya, akan dilakukan analisis statistika untuk pemeriksaan model regresi terbaik. Metode yang dipakai dalam analisis model regresi terbaik adalah metode Stepwise menggunakan program aplikasi Minitab_15. Pemilihan metode ini dikarenakan untuk mengurangi kemungkinan adanya muktikolinearitas dari persamaan/model yang dihasilkan.
Berdasarkan data nilai analisis pada Stepwise Regression, kita dapat memilih model regresi terbaik. Secara terpisah, untuk menentukan model regresi terbaik, kita perhatikan dahulu model regresi untuk satu peubah penjelas. Selanjutnya kita perhatikan untuk dua, tiga dan empat peubah penjelas.
Dengan demikian, diperoleh model regresi terbaik yang dapat digunakan sebagai alat dalam membuat keputusan mengenai apakah seorang pelamar dapat diterima atau tidak pada universitas tersebut.
Selengkapnya... Silahkan Download, KLIK DI SINI
SELAMAT DATANG
"Selamat Datang di blog saya, semoga blog ini dapat bermanfaat bagi anda"
23 Desember 2011
13 Desember 2011
Tim Peneliti Amerika Jajaki Alternatif untuk Vaksin AIDS
Mengembangkan sebuah vaksinasi untuk memerangi virus AIDS merupakan usaha yang sangat berambisi. Selama ini riset pengembangan vaksin AIDS meraih sejumlah keberhasilan, akan tetapi juga mengalami pukulan mundur. Kendalanya, terlampau banyak jenis virus AIDS tutur Profesor Gerd Fätkenheuer dari rumah sakit Universitas Köln, "Kesulitannya, virus itu berubah terus, begitu juga strukturnya dan komposisi genetikanya. Sangat sulit untuk melawannya bagi sistem kekebalan tubuh."
Bila seorang tertular dengan virus HIV, yang merupakan penyebab dasar AIDS, sistem kekebalan tubuhnya akan mengembangkan sebuah molekul penangkis untuk melawan virus tersebut. Namun molekul tersebut yang merupakan antibody tidak sanggup untuk mencegah penyebaran virus itu di dalam tubuh. "Setiap pengidap virus HIV, setiap pasien memiliki antibody. Tetapi antibody tidak mematikan virus itu, melainkan hanya menunjukkan ada infeksi," dikatakan Profesor Gerd Fätkenheuer .
Kalangan peneliti mulai melakukan analisa untuk mencari jawabannya. Mereka memperhitungkan akan mendapatkan hasilnya dalam satu hingga dua tahun. Namun, kemampuan apa tepatnya yang harus dimiliki bahan vaksinasi itu untuk mencegah terinfeksinya sel-sel oleh HIV, belum dikethaui jelas.
Hingga kini, sudah lebih dari 200 tahun sejak vaksin-vaksin dikembangkan untuk melindungi orang dari serangan penyakit, pertama dengan vaksin cacar, HIV telah menjadi organisme penyakit yang menjadi tantangan di mana para ilmuwan tidak mampu mengembangkan vaksin yang efektif. Tetapi, beberapa ilmuwan percaya vaksin mungkin bukan jawaban terbaik.
Peneliti Alejandro Balazs yang bekerja pada Institut Tekhnologi California (Cal-Tech) di Pasadena mengupayakan alternatif untuk vaksin AIDS.
Balazs mengatakan bahwa ilmuwan CalTech sedang mengembangkan satu cara membunuh virus yang sangat berbeda dari cara kerja vaksin tradisional.
Vaksin merangsang tubuh agar memproduksi antibodi pelindung, protein anti-infeksi dengan menyuntikkan virus atau bakteri tidak berbahaya, sehingga nantinya, jika muncul tanpa diundang, sistem kekebalan tubuh dengan cepat dapat mengenali dan menyerang pathogen tersebut. Balazs mengatakan strategi ini memberikan kekebalan terhadap berbagai organisme penyakit yang berbahaya.
"Dalam kasus HIV pendekatan tradisional untuk vaksinasi itu sebenarnya tidak berguna, karena tubuh cenderung membuat antibodi yang tidak menetralkan. Jadi, vaksin itu sebenarnya tidak mencegah penularan. Dalam kasus ini kita dapat mengkhususkan antibodi monoklonal yang sudah diketahui ampuh melawan HIV secara langsung. Jadi kita tidak hanya berharap sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi yang dihendaki,” paparnya.
Manurut Balazs, para peneliti CalTech tidak merekayasa antibodi monoklonal yang ditargetkan secara spesifik terhadap HIV itu. Rekayasa itu sudah dilakukan oleh banyak ilmuwan di seluruh dunia.
Tetapi, tim CalTech membuat terobosan baru dengan memasukkan antibodi itu ke dalam virus dingin yang tidak berbahaya, dan kemudian menyuntikkannya ke dalam jaringan otot tikus percobaan.
Tikus-tikus yang dibiakkan untuk mengembangkan sistem kekebalan tubuh mirip manusia itu, kemudian menghasilkan sejumlah besar anti-bodi yang mampu membunuh virus.
Balazs mengatakan teknik, yang disebut Vectored Immuno-Prophylaxi (VIP)) itu mencegah infeksi ketika tikus tertular HIV dalam dosis tinggi.
"Tikus-tikus itu pada dasarnya dilindungi dari penurunan kekebalan tubuh akibat HIV, meniru proses yang terjadi pada manusia. Ketika manusia tertular HIV sistem kekebalan tubuh mereka perlahan-lahan dibunuh oleh virus tersebut. Kami menemukan bahwa profilaksis kami mencegah itu," ujarnya lagi.
Balazs mengatakan para peneliti berharap dapat memulai uji klinis terapi VIP pada manusia dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Penelitian mengenai pengobatan HIV ini dimuat dalam jurnal Nature.
Sumber Rujukan: http://www.voanews.com/indonesian/news/
Bila seorang tertular dengan virus HIV, yang merupakan penyebab dasar AIDS, sistem kekebalan tubuhnya akan mengembangkan sebuah molekul penangkis untuk melawan virus tersebut. Namun molekul tersebut yang merupakan antibody tidak sanggup untuk mencegah penyebaran virus itu di dalam tubuh. "Setiap pengidap virus HIV, setiap pasien memiliki antibody. Tetapi antibody tidak mematikan virus itu, melainkan hanya menunjukkan ada infeksi," dikatakan Profesor Gerd Fätkenheuer .
Kalangan peneliti mulai melakukan analisa untuk mencari jawabannya. Mereka memperhitungkan akan mendapatkan hasilnya dalam satu hingga dua tahun. Namun, kemampuan apa tepatnya yang harus dimiliki bahan vaksinasi itu untuk mencegah terinfeksinya sel-sel oleh HIV, belum dikethaui jelas.
Hingga kini, sudah lebih dari 200 tahun sejak vaksin-vaksin dikembangkan untuk melindungi orang dari serangan penyakit, pertama dengan vaksin cacar, HIV telah menjadi organisme penyakit yang menjadi tantangan di mana para ilmuwan tidak mampu mengembangkan vaksin yang efektif. Tetapi, beberapa ilmuwan percaya vaksin mungkin bukan jawaban terbaik.
Peneliti Alejandro Balazs yang bekerja pada Institut Tekhnologi California (Cal-Tech) di Pasadena mengupayakan alternatif untuk vaksin AIDS.
Balazs mengatakan bahwa ilmuwan CalTech sedang mengembangkan satu cara membunuh virus yang sangat berbeda dari cara kerja vaksin tradisional.
Vaksin merangsang tubuh agar memproduksi antibodi pelindung, protein anti-infeksi dengan menyuntikkan virus atau bakteri tidak berbahaya, sehingga nantinya, jika muncul tanpa diundang, sistem kekebalan tubuh dengan cepat dapat mengenali dan menyerang pathogen tersebut. Balazs mengatakan strategi ini memberikan kekebalan terhadap berbagai organisme penyakit yang berbahaya.
"Dalam kasus HIV pendekatan tradisional untuk vaksinasi itu sebenarnya tidak berguna, karena tubuh cenderung membuat antibodi yang tidak menetralkan. Jadi, vaksin itu sebenarnya tidak mencegah penularan. Dalam kasus ini kita dapat mengkhususkan antibodi monoklonal yang sudah diketahui ampuh melawan HIV secara langsung. Jadi kita tidak hanya berharap sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi yang dihendaki,” paparnya.
Manurut Balazs, para peneliti CalTech tidak merekayasa antibodi monoklonal yang ditargetkan secara spesifik terhadap HIV itu. Rekayasa itu sudah dilakukan oleh banyak ilmuwan di seluruh dunia.
Tetapi, tim CalTech membuat terobosan baru dengan memasukkan antibodi itu ke dalam virus dingin yang tidak berbahaya, dan kemudian menyuntikkannya ke dalam jaringan otot tikus percobaan.
Tikus-tikus yang dibiakkan untuk mengembangkan sistem kekebalan tubuh mirip manusia itu, kemudian menghasilkan sejumlah besar anti-bodi yang mampu membunuh virus.
Balazs mengatakan teknik, yang disebut Vectored Immuno-Prophylaxi (VIP)) itu mencegah infeksi ketika tikus tertular HIV dalam dosis tinggi.
"Tikus-tikus itu pada dasarnya dilindungi dari penurunan kekebalan tubuh akibat HIV, meniru proses yang terjadi pada manusia. Ketika manusia tertular HIV sistem kekebalan tubuh mereka perlahan-lahan dibunuh oleh virus tersebut. Kami menemukan bahwa profilaksis kami mencegah itu," ujarnya lagi.
Balazs mengatakan para peneliti berharap dapat memulai uji klinis terapi VIP pada manusia dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Penelitian mengenai pengobatan HIV ini dimuat dalam jurnal Nature.
Sumber Rujukan: http://www.voanews.com/indonesian/news/
Langganan:
Postingan (Atom)
