SELAMAT DATANG

"Selamat Datang di blog saya, semoga blog ini dapat bermanfaat bagi anda"

Selasa, 24 Mei 2011

Peranan Teknologi Komunikasi Dalam Teknologi Pendidikan

 
BAB I
PENDAHULUAN


Perkembangan dunia salah satunya ditandai dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat yang selalu memberikan kemudahan dan keleluasaan tanpa batas waktu, ruang dan jarak. Koneksi secara elektronik antarnegara, antarkawasan, antarbenua bisa dilakukan dengan mudah. Inovasi-inovasi yang dihasilkan berkembang pesat dan mempengaruhi disemua bidang kehidupan manusia. Bidang ekonomi, bidang Hankam, bidang Sosial budaya, bidang Politik, dan bidang Pendidikan tidak pernah lepas dari sirkulasi teknologi. Perkembangan teknologi komunikasi mempengaruhi perkembangan pembangunan suatu bangsa yang mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan menemukan informasi yang tidak terbatas melalui media sederhana tetapi juga melalui media teknologi tinggi sebagai sumber informasi.
Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi komunikasi adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur: pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik sebagai pembelajar. Dengan perkembangan ini juga mempengaruhi perubahan penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia, sehingga sudah sepatutnya pendidikan nasional dilaksanakan secara kondusif sebagai salah satu tuntutan zaman dengan segala perkembangannya, dan membawa kita ke arah globalisasi yang menuntut kita untuk terus mengembangkan Sumber daya Manusia (SDM).
Teknologi komunikasi merupakan suatu hasil pemikiran dan hasil karya manusia yang diaplikasikan untuk menghubungkan proses komunikasi antarmanusia. Melihat pengertian tersebut banyak sekali teknologi komunikasi yang berkembang dimasyarakat, salah satunya adalah teknologi komunikasi pendidikan.
Perkembangan teknologi komunikasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on-line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Melalui teknologi komunikasi, dalam situasi tertentu guru dapat memberikan pelayanan mengajar tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa karma dapat menggunakan media pembelajaran dalam teknologi komunikasi. Melalui teknologi komunikasi juga, siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet, bahkan pembelajaran dapat dilakukan melalui cyber teaching atau pengajaran maya.
Dengan penggunaan media elektronik dalam pemebelajaran maka dikenal dengan pembelajaran elektronik (e-learning). Dalam berbagai literatur e-learning tidak terlepas dari jaringan Internet, karena media ini yang dijadikan sarana untuk penyajian ide dan gagasan pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa teknologi komunikasi berperan dalam teknologi pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam kajian makalah ini, akan dibahas tentang: Bagaimana peranan teknologi komunikasi dalam bidang pendidikan. Bagaimana karakteristik yang dimiliki teknologi komunikasi jika diterapkan dalam pendidikan formal. Bagaimana kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh teknologi komunikasi pendidikan yang diaplikasikan dalam pendidikan formal. www.orgenestonga.blogspot.com

BAB II
KAJIAN TEORI


2.1. Komunikasi
Komuikasi merupakan suatu proses yang sangat penting dan terjadi pada setiap kegiatan manusia. Dalam proses komunikasi terdapat unsur-unsur atau komponen yang dapat membangun istilah evasi, persepsi, retorika serta teknologi komunikasi. Komunikasi menjadi sangat penting saat proses tersebut berjalan efektif dan sesuai dengan apa yang diharapkan dalam pencapaian tujuan. Banyak kegiatan manusia yang tidak lepas dari komuikasi, bahkan saat berdiam diri, manusia sering berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Dalam kehidupan sosial, komunikasi mengambil peran yang sangat penting, dimana komunikasi yang dilakukan oleh seseorang merupakan tolak ukur dari karakter yang dimiliki. Terkadang orang yang memiliki kepandaian berkomunikasi sosial biasanya dipersepsi oleh orang lain sebagai individu yang berkarakter baik. Sebenarnya, jika ditelusuri lebih jauh maka inti dari komunikasi itu sendiri adalah penyaluran pesan kepada orang lain. Komunikasi yang efektif dan efisien dapat membuat proses penyaluran pesan dapat berjalan dengan baik, sehingga makna dari pesan yang disampaikan dapat ditangkap oleh orang lain.
Teknologi pendidikan merupakan suatu kajian baik teori maupun praktek dimana suatu teknologi yang ada dapat dikembangkan dan diaplikasikan sesuai dengan aspek-aspek yang ada guna kepentingan pendidikan. Disini komunikasi mengambil peranan sebagai suatu kajian ilmu yang digunakan sebagai cara atau strategi dalam penyampaian pesan secara efektif dan efisien. Teknologi pendidikan nantiya akan mencetak seorang teknolog dalam bidang pendidikan yang akan berada pada bidang garapan seperti pembuatan media pembelajaran, penyusunan kurikulum pendidikan, dan kegiatan optimalisasi pendidikan lainnya. Dari kegiatan-kegiatan tersebut komunikasi diperlukan untuk menciptakan suatu cara atau strategi agar pesan-pesan dari produk yang dihasilkan dapat dipahami oleh orang lain, khusunya peserta didik.
Berikut merupakan beberapa definisi komunikasi menurut para ahli:
1)         Wiliam Albig, Komunikasi adalah penyampaian lambing-lambang yang berarti diantara individu.
2)         Harold dan Havland, Komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator mengoverkan peransang, biasanya dengan lambing-lambang bahasa untuk merubah tingkah laku individu lain.
3)         D. Lawrence Kincaid dan Wilbur Schramm, Komunikasi adalah proses saling berbagi atau menggunakan informasi secara bersama, dan pertalian antara para peserta dalam proses komunikasi.
4)         Louis Forsdale, Komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu system dapat didirikan, dipelihara, dan diubah.
5)         Brent D. Ruben, Komunikasi manusia adalah suatu proses melalui individu dalam hubungannya, dalam kelompok dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasilingkungannya dan orang lain.
6)         Hovland, Janis & Kelley, Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya
7)         Weaver, Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.
8)         Gode. Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari semula yang dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dengan protokol/aturan tertentu dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara kedua pihak. Dalam proses komunikasi melibatkan komponen “siapa”  “mengatakan apa”  “dengan saluran apa”, “kepada siapa” , dan “dengan akibat/hasil apa”.
Komunikasi merupakan suatu proses untuk menyampaikan pesan yang mengandung sebuah atau beberapa makna yang nantinya akan dipersepsi oleh penerima pesan baik itu berupa informasi, data-data, maksud atau keinginan. Pesan yang yang kita sampaikan dapat dilakukan dengan komunikasi kepada individu atau perorangan, kelompok atau organisasi dan masyarakat luas. Masing-masing penerima pesan tersebut memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda, hal itu mengakibatkan efek yang ditimbulkan dari pesan yang kita sampaikan terhadap masing-masing individu dapat berbeda-beda. Namun secara umum proses komunikasi yang kita lakukan dapat dikatakan berhasil jika penerima pesan menerima efek dari apa yang kita sampaikan. Efek-efek yang dapat ditimbulkan dari proses komunikasi dapat berupa perubahan sikap dan perilaku, pemikiran, bahkan dapt menjadi sebuah konsep bagi orang lain, dan tentunya efek-efek yang ditimbulkan tersebut dapat bersifat konstruktif. Proses komunikasi dapat dilakukan secara langsung yakni dengan cara bertatap muka secara langsung baik itu secara perorangan maupun kelompok, sedangkan secara tidak langsung kita dapat menggunakan alat atau media yang dapat kita gunakan untuk berkomunikasi. Di era moderen ini, banyak alat atau media yang dapat kita gunakan untuk berkomunikasi seperti, komputer dan internet dengan layanan website, email, chating dan lainnya; hand phone dengan layanan SMS, MMS dan lain sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari baik sadar ataupun tidak sadar kita banyak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan komunikasi. Salah satu jenis komunikasi yang kita lakukan dan sering tidak kita sadari adalah komnikasi nonverbal.


2.2. Komponen Komunikasi
Dalam proses komunikasi terdapat beberapa komponen yang saling terkait, yaitu:
1)         Pengirim atau komunikator (sender). Adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain. Komunikator dapat mengirimkan pesan secara langsung atau tidak langsung kepada pihak lain.
2)         Pesan (message). Adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain. Pesan yang disampaikan dapat berupa pesan verbal, nonverbal atau objek lainnya.
3)         Saluran (channel). Adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara. Teknologi komunikasi yang ada juga dapat digunakan sebagai salah satu media komunikasi.
4)         Protokol (protocol). Adalah aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan. Aturan tersebut dapat berupa penggunaan tata bahasa, kode-kode tertentu, yang disepakati secara universal.
5)         Penerima atau komunikate (receiver). Adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain. Penerima pesan dapat berupa individu, kelompok atau organisasi dan masyarakat luas.
6)         Umpan balik (feedback). Adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya. Salah satu tanda komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya feedback.


2.3. Faktor-faktor yang dapat membentuk komunikator menjadi efektif
Efektifnya suatu komunikasi dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
1)         Faktor Internal
Faktor ini berasal dari dalam diri seorang komunikator. Faktor-faktor yang mendukung faktor internal ini adalah:
a.          Intelegensi. Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat intelegensi seseorang sangat berpengaruh kepada pembentukan seorang komunikator yang baik. Seseorang yang memiliki intelegensi yang tinggi dalam bidang tertentu akan sangat mungkin menguasai dan memahami materi-materi bidang tersebut, sehingga mampu membuat sebuah kejelasan (clarity), ketepaatan (accuracy), konteks (context), dan alur (flow) yang baik dalam melakukan komunikasi kepada orang lain, baik itu komunikasi intrapersonal, interpersonal dan publik (massa). Kemampuan intelegensi seseorang erat kaitannya kepada jenjang pendidikan formal yang ditempuh. Namun banyak hal lain seprti pendidikan informal, nonformal sebagai pengalaman-pengalaman di luar pendidikan formal yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan intelegensi seseorang. Untuk itu seorang komunikator hendaknya terus mengasah intelegensinya disuatu bidang yang ditekuni agar menjadi komunikator yang handal.
b.          Psikologis. Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah faktor psikologis seorang komunikator. Faktor ini lebih kepada sikap mental seorang komunikator terhadap apa yang disampaikan dan apa yang diterima terhadap apa yang disampaikan tersebut. Seorang komunikator yang baik hendaknya harus merasa yakin dan memiliki keparcayaan diri terhadap apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Tak hanya itu, ia juga harus bisa dan siap menerima umpan balik (feedback) dari apa yang disampaikannya, baik berupa tanggapan, saran, atau kritik.
c.          Kondisi fisik. Jika seorang komunikator telah memiliki intelegensi yang mumpuni, mental yang baik maka ia juga harus memperhatikan kondisi fisiknya. Alat indera yang ada hendaknya harus dioptimalkan dalam proses komunikasi. Kebanyakan komunikator menggunakan tubuh mereka untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Terkait dengan bahasa nonverbal, bahasa tubuh juga memegang peranan penting untuk mendukung bahasa verbal yang ditampilkan oleh seorang komunikator agar lebih efektif.
2)         Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor pendukung yang berasal dari luar diri seorang komunikator. Faktor-faktor yang mendukung faktor eksternal adalah:
a.          Penggunaan media. Penggunaan media sebagai sarana seorang komunikator menyampaikan pesan, juga membantu dalam proses komunikasinya. Penggunaan media yang tepat akan lebih meyakinkan orang lain (komunikan) terhadap apa yang disampaikannya. Pada era kemajuan teknologi komunikasi ini, komunikator banyak menggunakan media-media guna mendukung terhadap apa yang disampaikan. Baik itu media interaktif, semiinteraktif, ataupun noninteraktif sudah banyak dan dapat digunakan. Untuk itu sebagai seorang komunikator yang baik, selain kemapuan-kemapuan internal yang sudah dimiliki hendaknya juga bisa memilih serta menggunakan media-media yang ada agar komunikasi berjalan lebih efektif.
b.          Kondisi lingkungan. Salah satu kondisi eksternal yang memiliki jangkauan luas dalam proses komunikasi adalah kondisi lingkungan seorang komunikator. Kondisi lingkugan mencakup banyak aspek seperti lingkugan sosial, lingkungan budaya dan lain sebagainya. Untuk itu seorang komunikator harus mampu melihat dan menyesuaikan kondisi lingkungan yang ada baik itu kondisi lingkugan tempat tinggalnya sendiri maupun kondisi lingkungan orang lain, yang terkait dengan proses komunikasi dengan orang pada lingkungan tersebut. Hal itu tidak lain adalah bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadi evasi terhadap apa yang disampaikan.


2.4. Teknologi Komunikasi Pendidikan
Teknologi Komunikasi Pendidikan merupakan kajian yang mempelajari tentang pemahaman dan penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam menganalisis konsep teknologi komunikasi dalam pendidikan, mengadopsi hasil inovasi teknologi komunikasi dalam mengembangkan pendidikan dan pembelajaran, serta mampu menerapkan konsep dan prinsip serta cara kerja hasil inovasi di bidang teknologi komunikasi dalam dunia pendidikan dan desain pembelajaran. Teknologi komunikasi dalam teknologi pembelajaran merupakan pemanfaatan teknologi komunikasai oleh guru/pengajar dan siswa/pelajar, dimana teknologi yang berkembag dalam penerapan model pembelajaran berbasis TIK adalah pembelajaran elektronik (e-learning). Teknologi komunikasi dalam teknologi pembelajaran meliputi:
1)         CBT(Computer Based Training), pelatihan berbasis komputer
2)         CBI (Computer Based Instruction), pembelajaran berbasis komputer
3)         DL (Distance Learning), belajar jarak jauh
4)         DE (Distance Education), pendidikan jarak jauh
5)         CLE (Cybernetic Learning Environment), lingkungan belajar jaringan maya
6)         Teleconferencing, telekonferensi
7)         Desktop Videoconferencing, videokonferensi desktop/ antar muka
8)         ILS (Integrated Learning System), sistem pembelajaran terpadu
9)         LCC (Learner-Centerted Classroom), pembelajaran-terpusat di kelas
10)     WBT (Web-Based Training), pelatihan berbasis web
Kehadirannya teknologi komunikasi telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi khususnya bidang pendidikan dengan penerapan e-learning.


2.5. Pendidikan Formal
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, sifatnya resmi, serta terikat dengan aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan. Pendidikan formal juga memegang peranan penting dalam proses mengembangkan Sumber Daya Manusia.
Jenis-jenis pendidikan formal adalah:
1)         Taman Kanak-kanak (TK)
2)         Raudatul Athfal (RA)
3)         Sekolah Dasar (SD)
4)         Madrasah Ibtidaiyah (MI)
5)         Sekolah Menengah Pertama (SMP)
6)         Madrasah Tsanawiyah (MTs)
7)         Sekolah Menengah Atas (SMA)
8)         Madrasah Aliyah (MA)
9)         Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
10)     Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)
11)     Perguruan tinggi: Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut, Universitas.
Dalam pendidikan formal proses yang dilalui cukup panjang, yang melibatkan beberapa unsur seperti:
1)         Pendidik.
2)         Administrator pendidikan.
3)         Proses komunikasi.
4)         Peserta didik.
5)         Pesan-pesan atau informasi pendidikan.
6)         Tujuan-tujuan yang dicapai dari proses pendidikan yang dimaksud.
Pada pelaksanaan pendidikan formal atau pendidikan melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah, tampak jelas bahwa proses komunikasi sangat dominan kedudukannya. Dari sini tampak bahwa pendidikan formal bukan sekadar mengajari anak-anak supaya menjadi lebih baik, menjadi pintar, atau sekadar berkomunikasi dengan mereka yang isinya memberi nasehat supaya mereka berperilaku baik. Namun sudah semakin kompleks, karena melibatkan banyak unsur di dalamnya termasuk teknologi.


2.6. Teknologi komunikasi dalam Pendidikan Formal
Teknologi komunikasi memiliki hubungan dengan pendidikan formal. Hal ini ditunjukan dengan penerapan teknologi komunikasi dalam pendidikan formal yang dapat dilihat pada kegiatan pembelajaran antara pendidik (guru) dan peserta didik, serta kegiatan administratif yang ada di dalam institusi pendidikan formal.

2.6.1. Teknologi Dan Hubungannya Dengan Metodologi Pembelajaran
Kata teknologi sering dipahami oleh orang awam sebagai sesuatu yang berupa mesin atau hal-hal yang berkaitan dengan permesinan, namun sesungguhnya teknologi pendidikan memiliki makna yang lebih luas, karena teknologi pendidikan merupakan perpaduan dari unsur manusia, mesin, ide, prosedur, dan pengelolaannya (Hoba, 1977), kemudian pengertian tersebut akan lebih jelas dengan pengertian bahwa pada hakikatnya teknologi adalah penerapan dari ilmu atau pengetahuan lain yang terorganisir ke dalam tugas-tugas praktis (Galbraith, 1977). Teknologi tidak dapat dipisahkan dari masalah, sebab teknologi lahir dan dikembangkan untuk memecahkan perpermasalahan yang dihadapi oleh manusia, dalam hal ini keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam masalah pembelajaran. Berkaitan dengan hal tersebut, maka teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses (Sadiman, 1993). Sebagai suatu produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih konkrit seperti radio, televisi, proyektor dan sebagainya. Teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia. (AECT, 1977). Sejalan dengan hal tersebut, maka lahirnya teknologi pendidikan dari adanya permasalahan dalam pendidikan. Permasalahan pendidikan yang mencuat saat ini, meliputi pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu/kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Permasalahan serius yang masih dirasakan oleh pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi adalah masalah kualitas, tentu saja ini dapat di pecahkan melalui pendekatan teknologi pendidikan.
Terdapat tiga prinsip dasar dalam teknologi pendidikan sebagai acuan dalam pengembangan dan pemanfaatannya, yaitu : pendekatan sistem, berorientasi pada siswa/mahasiswa, dan pemanfaatan sumber belajar (Sadiman, 1984:44). Prinsip pendekatan sistem berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran perlu desain/perancangan dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam merancang pembelajaran diperlukan langkah-llangkah procedural meliputi : identifikasi masalah, analisis keadaan, identifikasi tujuan, pengelolaan pembelajaran, penetapan metode, penetapan media evaluasi pembelajaran (IDI model, 1989) . Prinsip berorientasi pada siswa beratri bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatiannya pada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik, minat, potensi dari siswa. Prinsip pemanfaatan sumber belajar berarti dalam pembelajaran siswa hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya.
Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang yang menekankan pada aspek belajar siswa melalui suatu upaya yang dilakukan dalam kegiatan pendidikan dengan memperhatikan bagaimana siswa dapat belajar, dengan cara mengidentifikasi, mengembangkan, mengorganisasi, serta menggunakan segala macam sumber belajar untuk mencapai tujuan. Dengan demikian upaya pemecahan masalah dalam pendekatan teknologi pendidikan adalah dengan mendayagunakan sumber belajar. Hal ini sesuai dengan ditandai dengan pengubahan istilah dari teknologi pendidikan menjadi teknologi pembelajaran.

2.6.2. Peran Teknologi Informasi Dalam Modernisasi Pendidikan
Menurut Resnick (2002) ada tiga hal penting yang harus dipikirkan ulang terkait dengan modernisasi pendidikan: (1) bagaimana kita belajar (how people learn); (2) apa yang kita pelajari (what people learn); dan (3) kapan dan dimana kita belajar (where and when people learn).
Bagaimana kita belajar, terkait dengan metode dan model pembelajaran yang terjadi melalui interaksi antara guru dengan siswa dalam pembelajaran. Terkait dengan ini, menurut Pannen (2005), saat ini terjadi perubahan paradigma pembelajaran terkait dengan ketergantungan terhadap guru dan peran guru dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seharusnya tidak 100% bergantung kepada guru lagi (instructor dependent) tetapi lebih banyak terpusat kepada siswa (student-centered learning atau instructor independent), sehingga guru tidak lagi dijadikan satu-satunya rujukan semua pengetahuan tetapi lebih sebagai fasilitator atau konsultan.
Secara umum, penerapan teknologi komunikasi dalam pendidikan yaitu penerapan pada kegiatan pembelajaran dan penerapan pada kegiatan administratif institusi. Lebih jauh mengenai peranannya, dijelaskan sebagai berikut:
a.      Penerapan di dalam kegiatan pembelajaran.
Peranan teknologi komunikasi dalam pembelajaran ditandai dengan hadirnya e-learning dengan semua variasi tingkatannya telah memfasilitasi perubahan dalam pembelajaran yang disampaikan melalui semua media elektronik termasuk seperti: audio/video, TV interaktif, CD ROM, intranet dan internet. Secara umum, peranan e-learning dalam proses pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni: Komplementer, mengandaikan bahwa cara pembelajaran dengan pertemuan tatap-muka masih berjalan tetapi ditambah dengan model interaksi berbantuan teknologi informasi; Substitusi, sebagian besar proses pembelajaran dilakukan berbantuan teknologi informasi.
Dalam kegiatan pembelajaran, penerapan teknologi komunikasi dapat terlihat dari bagaimana cara pendidik memberikan sebuah materi yang disampaikan kepada peserta didik. Peran sekolah sebagai institusi yang memfasilitasi sarana (teknologi komunikasi) dalam menunjang kegiatan pembelajaran, seperti komputer atau laptop, Internet atau jaringan wifi, LCD proyektor, TV, VCD, OHP/OHT, Tape recorder dan sebagainya. Dari fasilitas-fasilitas yang ada tersebut dapat dimanfaatkan pendidik untuk mengakomodasi teknik pembelajaran yang akan digunakan.
Paradigma dari perkembangan teknologi komunikasi yang ada mengakibatkan model belajar konvensinal sedikit demi sedikit berubah. Untuk itu tuntutan bagi pendidik agar bisa mengikuti perkembangan teknologi komunikasi yang ada. Sehingga diharapkan kegiatan belajar berjalan efektif karena ditunjang dengan kemapuan dari pendidik dalam memanfaatkan teknologi yang ada.
Beberapa contoh penerapan teknologi komunikasi dalam kegiatan pembelajaran adalah:
1)         Penggunaan media pembelajaran oleh pendidik dalam penyampaian materi pelajaran seperti Power Point, Windows Journal, CD tutorial dan interaktif, Penggunaan OHT, tutor audio, dan sebagainya.
2)         Penggunaan internet atau jaringan wifi yang disediakan oleh sekolah sebagai sarana peserta didik untuk mencari referensi tugas-tugas yang diberikan oleh pendidik.
3)         Penggunaan komputer sebagai sarana praktek terhadap materi-materi tertentu yang memang membutuhkan fasiltas komputer seperti, materi TIK yang mengajarkan penggunaan aplikasi office, desain grafis, dan sebagainya.
b.      Penerapan di dalam kegiatan administratif institusi.
Dalam menjalankan seluruh kegiatan operasinalnya, sekolah banyak memanfaatkan berbagai teknologi, khusunya yang berbasis teknologi komunikasi untuk mempermudah seluruh kegiatannya. Contoh penerapan teknologi komunikasi dalam kegiatan administratif adalah:
1)         Penggunaan komputer dalam sistem penilaian prestasi akademis peserta didik.
2)         Penggunaan komputer untuk pendataandatabase identitas seluruh warga sekolah baik peserta didik dan pendidik.
3)         Penggunaan internet sebagai akses aktualisasi identitas institusi pendidikan (website sekolah atau perguruan tinggi) dan monitoring penialaian secara online.
4)         Penggunaan perangkat audio (sound sistem, tape recorder) dan visual (LCD proyektor, TV) untuk kegiatan di luar pembelajaran seperti rapat, diklat, seminar, dan sebagainya.

2.6.3. Fungsi Teknologi komunikasi Dalam Pembelajaran
Teknologi komunikasi memilliki tiga fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu: (1) Teknologi berfungsi sebagai alat (tools). Dalam hal ini, teknologi komunikasi digunakan sebagai alat bantu bagi pengguna (user) atau siswa untuk membantu pembelajaran, misalnya dalam mengolah kata, mengolah angka, membuat desain grafis, membuat database, membuat program administratif untuk siswa, guru dan staf, data kepegawaian, keungan dan sebagainya. (2) Teknologi berfungsi sebagai ilmu pengetahuan (science). Dalam hal ini teknologi sebagai bagian dari disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh siswa dalam meningkatkan kompetensinya. (3) Teknologi berfungsi sebagai bahan dan alat bantu untuk pembelajaran (literacy). Dalam hal ini teknologi dimaknai sebagai bahan pembelajaran sekaligus sebagai alat bantu untuk menguasai sebuah kompetensi berbantuan komputer dengan tetap menjadikan guru sebagai fasilitator, motivator, transmiter, dan evaluator dalam prinsip pembelajaran tuntas.
Dengan demikian, teknologi informasi dan komunkasi harus tetap ada dalam pendidikan dan terus dikembangkan dengan cara: (1) Meminimalisir kelemahan internal dengan mengadakan perkenalan teknologi informasi global dengan alat teknologi informasi itu sendiri (radio, televisi, komputer), (2) Mengembangkan teknologi informasi menjangkau seluruh daerah dengan teknologi informasi itu sendiri (Local Area Network, Metropolitan Area Network dan Wide Area Network), dan (3) Pengembangan warga institusi pendidikan menjadi masyarakat berbasis teknologi informasi agar dapat berdampingan dengan teknologi informasi melalui alat-alat teknologi informasi.
Peran dan fungsi teknologi informasi dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam manajemen dunia pendidikan, berdasar studi tentang tujuan pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan terkemuka di Amerika, Alavi dan Gallupe (2003) menemukan beberapa tujuan pemanfaatan teknologi informasi, yaitu (1) memperbaiki competitive positioning; (2) meningkatkan brand image; (3) meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran; (4) meningkatkan kepuasan siswa; (5) meningkatkan pendapatan; (6) memperluas basis siswa; (7) meningkatkan kualitas pelayanan; (8)mengurangi biaya operasional; dan (9) mengembangkan produk dan layanan baru. Karenanya, tidak mengherankan jika saat ini banyak institusi pendidikan di Indonesia yang berlomba berinvestasi dalam bidang teknologi informasi untuk memenangkan persaingan yang semakin ketat. Maka dari itu untuk memenangkan pendidikan yang bermutu maka disolusikan untuk memposisikan institusi pendidikan pada lingkungan peluang yang menguntungkan dan kekuatan internal yang kuat.

2.6.4. Faktor Pendukung Teknologi komunikasi Dalam Pendidikan
Teknologi komunikasi yang merupakan bahan pokok dari e-learning itu sendiri berperan dalam menciptakan pelayanan yang cepat, akurat, teratur, akuntabel dan terpercaya. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi teknologi informasi yaitu: (1)Infrastruktur, (2)Sumber Daya Manusia, (3)Kebijakan, (4)Finansial, dan (5)Konten dan Aplikasi (Soekartawi,2003).
Dengan demikian, agar teknologi komunikasi dapat berkembang dengan pesat maka perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yakni: Pertama, dibutuhkan infrastruktur yang memungkinkan akses informasi di manapun dengan kecepatan yang mencukupi. Kedua, faktor SDM menuntut ketersediaan human brain yang menguasai teknologi tinggi. Ketiga, faktor kebijakan menuntut adanya kebijakan berskala makro dan mikro yang berpihak pada pengembangan teknologi informasi jangka panjang. Keempat, faktor finansial membutuhkan adanya sikap positif dari pihak-pihak penyedia dana seperti pemerintah, bank dan lembaga keuangan lain untuk membantu pengembangan teknologi komunikasi dalam pendidikan. Kelima, faktor konten dan aplikasi menuntut adanya informasi yang disampai pada orang, tempat, dan waktu yang tepat serta ketersediaan aplikasi untuk menyampaikan konten tersebut dengan nyaman pada penggunanya.
E-learning yang merupakan salah satu produk teknologi informasi dalam pendidikan tentu juga memiliki faktor pendukung dalam terciptanya pendidikan yang bermutu, adapun faktor-faktor tersebut; Pertama, harus ada kebijakan sebagai payung yang antara lain mencakup sistem pembiayaan dan arah pengembangan. Kedua, pengembangan isi atau materi, misalnya kurikulum harus berbasis teknologi komunikasi. Dengan demikian, nantinya yang dikembangkan tak sebatas operasional atau latihan penggunaan komputer. Ketiga, persiapan tenaga pengajar, dan Keempat, penyediaan perangkat kerasnya (Soekartawi,2003).

2.6.5. Masalah Penggunaan Teknologi komunikasi Dalam Pendidikan
Teknologi komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, salah satu teknologi informasi dan komunikasi yang sangat canggih adalah internet. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubung dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Kehadiran teknologi komunikasi membawa banyak potensi manfaat bagi pendidikan, disamping itu kehadiran teknologi komunikasi juga dapat membawa masalah. Khususnya Internet, penyebaran informasi yang sangat luas, cepat dan sulit terkendalikan telah membuka akses terhadap informasi yang tidak bermanfaat dan merusak moral bagi sebagian pengguna. Karena itu, penyiapan etika siswa juga perlu dilakukan dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikas untuk menghadang berbagai informasi yang tidak bermanfaat.
Kehadiran teknologi komunikasi membawa pengaruh pemanfaatan dalam pembelajaran, namun penerapannya masih menjadi permasalahan serius bagi dunia pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa permasalahan, yaitu: Ketersediaan layanan, Ketersediaan fasilitas penunjang, Pemanfaatan oleh pendidik, dan Pemanfaatan oleh peserta didik.
Dengan ketersediaan layanan teknologi komunikasi serta fasilitas penunjang yang memadai memungkinkan potensi untuk menyesuaikan cara belajar dan mendapatkan informasi. Pemanfaan teknologi komunikasi sebagai media pembelajaran oleh tenaga pengajar juga masih menjadi suatu hal yang perlu mendapat perhatian melalui peningkatan kompetensinya. Bahkan siswa juga perlu membekali dirinya untuk tetap memanfaatkan teknologi komunikasi untuk memperoleh berbagai informasi pengetahuan dan menggunakannya sesuai dengan kaidah-kaidah moralitas.


2.7. Karakteristik Teknologi Komunikasi Dalam Pendidikan Formal
Teknologi komunikasi memiliki hubungan dengan berapa karakteristik teknologi komunikasi dalam pendidikan secara formal, antara lain :
a.          Bersifat formal, terkontrol serta terikat dalam aturan-aturan tertentu.
Teknologi komunikasi yang berada pada lingkup formal memiliki aturan-aturan yang dibuat oleh institusi pendidikan yang terkait. Sehingga penggunaannya diatur agar sesuai dengan penggunaan yang normatif dan sesuai tujuan intitusi tersebut. Sehingga pemanfaatanya tidak bisa sama dan bebas dengan pemanfaatan teknologi komunikasi di luar lingkup formal tersebut.
Sebagai contoh penggunaan internet, peserta didik dapat menggunakan internet hanya untuk tujuan-tujuan yang konstruktif seperti mencari informasi dari beberapa search engine, mailing, penggunaan situs jejaring sosial. Sehingga akses terhadap situs-situs yang sifatnya destruktif seperti situs-situs asusila yang ada dilakukan blocking sebagai tindakan preventif.
b.          Bersifat terbatas.
Teknologi komunikasi yang disediakan oleh suatu institusi pendidikan tertentu tidak memungkinkan seseorang di luar institusi tersebut untuk bisa mengakses fasilitas yang ada. Sehingga yang memiliki privilege (keistimewaan) hanya orang-orang yang memang berada pada institusi tersebut. Batasan yang lain adalah terbatasnya waktu untuk mengakses teknologi tersebut.
Sebagai contoh adalah penggunaan jaringan wifi yang memang memiliki privilege untuk penggunaanya. Sehingga yang memungkinkan untuk mengakses fasilitas tersebut hanya orang-orang yang berada dalam lingkup institusi yang ada. Dan juga akses terhadap fasilitas yang ada juga memiliki batasan waktu. Sehingga tidak bisa secara terus menerus dalam sehari penuh dapat digunakan.
c.          Bersifat instruksional.
Fasilitas yang berkenaan dengan teknologi komunikasi yang tersedia dalam institusi formal yang ada diharapkan memiliki sifat konstruktif salah satunya dengan menjalankan fungsi instruksional dalam pemanfaatannya. Sehingga dalam pendidikan formal kehadiran teknologi komunikasi dapat memberikan “profit” dalam setiap kegiatan institusi. Sehingga teknologi tersebut memang memiliki daya guna dalam pengaplikasiannya.


2.8. Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Teknologi Komunikasi Pendidikan Dalam Pendidikan Formal
Dalam proses penerapannya di lingkup pendidikan formal, teknologi komunikasi pendidikan memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun secara umum peran teknologi tersebut secara garis besar membawa kelebihan dalam aplikasinya. Berikut adalah kelebihan dan kekurangannya:
a.          Kelebihan
ü          Dalam kegiatan pembelajaran.
1)         Proses pembelajaran yang disampaikan lebih variatif dan tidak monoton (penggunaan Power Point, CD tutorial dan interaktif).
2)    Penggunaan media dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan masing-masing pengguna, baik pendidik dan peserta didik.
3)         Proses pembelajaran tidak semata-mata secara tekstual.
4)  Banyak menekankan kepada poin-poin dari setiap materi yang disampaikan (Penggunaan Power Point).
5)         Akses informasi dari luar semakin cepat didapat (penggunaan internet).
6)         Bagi peserta didik akses tersebut murah, tanpa biaya yang besar.
ü          Dalam kegiatan administratif institusi.
1)         Monitoring yang mudah terhadap kegiatan akademis dan nonakademis.
2)      Mempercepat dan mempermudah pengerjaan tugas dari masing-masing fungsi struktur institusi formal.
b.          Kekurangan
1)         Akses terbatas terhadap fasilitas yang ada, dalam hal ini waktu dan tempat.
2)         Penggunaanya terikat oleh aturan yang ada dalam institusi formal yang terkait.
3)        Beban biaya yang cukup besar dalam pengadaan, karena kebutuhannya secara masal


BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Teknologi komunikasi dapat diaplikasikan dalam teknologi pembelajaran yang dapat membantu guru dan siswa, dan memiliki potensi berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan media teknologi pendidikan, yaitu dengan cara mencari dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam belajar kemudian dicarikan pemecahannya melalui aplikasi Teknologi Informasi dan komunikasi yang sesuai. Upaya pemecahan permasalahan pendidikan terutama masalah yang berhubungan dengan kualitas pembelajaran, dapat ditempuh dengan cara penggunaan berbagai sumber belajar dan penggunaan media pembelajaran yang berfungsi sebagai alat bantu dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Penggunaan teknologi komunikasi dalam teknologi pendidikan harus bersifat formal dan terkontrol penggunaannya secara normatif sesuai tujuan pendidikan. Pemanfaatan teknologi komunikasi yang ada dalam institusi pendidikan harus dibatasi hanya untuk kalangan institusi dengan keperluan mengakses informasi untuk keperluan pendidikan, dan ketersediaan waktu yang disesuaikan dengan institusi pendidikan. Pemanfaatan teknologi komunikasi yang dilakukan dalam institusi pendidikan harus bersifat instruksional yang disesuaikan dengan daya guna dari teknologi informasi dan komunikasi.
Secara umum, kehadiran teknologi komunikasi sangat bermanfaat bagi pelaksanaan pembelajaran maupun pengelolaan administrasi. Namun teknologi komunikasi hanya akan menjadi barang berharga yang disimpan jika tidak dimanfaatkan secara baik, dan dapat menjadi barang terlarang jika dimanfaatkan untuk keperluan yang tidak normatif.
www.orgenestonga.blogspot.com