SELAMAT DATANG

"Selamat Datang di blog saya, semoga blog ini dapat bermanfaat bagi anda"

Sabtu, 24 April 2010

Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalui Metode Problem-Based Learning With Music (PBLWM) Pada Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 2 Binsus Tobelo


PENDAHULUAN

Proses belajar mengajar di suatu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dipengaruhi oleh : siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan. Keseimbangan factor pendukung tersebut akan mengakibatkan kelancaran proses belajar mengajar yang memberi dampak pada kemajuan pencapaian mutu pendidikan. Secara khusus untuk mata pelajaran eksakta sering menjadi tantangan berat bagi para guru dan siswa untuk berusaha meningkatkan prestasi. Dalam pembelajaran matematika banyak guru yang mengeluhkan rendahnya kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika. Hal ini terlihat dari banyaknya kesalahan siswa dalam memahami konsep matematika sehingga mengakibatkan kesalahan – kesalahan dalam mengerjakan soal sehingga mengakibatkan rendahnya prestasi belajar siswa (skor) baik dalam ulangan harian, ulangan semester, maupun ujian akhir sekolah, padahal dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas biasanya guru memberikan tugas (pemantapan) secara kontinu berupa latihan soal. Kondisi riil dalam pelaksanaannya latihan yang diberikan tidak sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika. Rendahnya mutu pembelajaran dapat diartikan kurang efektifnya proses pembelajaran. Penyebabnya dapat berasal dari siswa, guru maupun sarana dan prasarana yang ada, minat dan motivasi siswa yang rendah, kinerja guru yang rendah, serta sarana dan prasarana yang kurang memadai akan menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif. Saat sekarang ini sistem pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang menggunakan sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sekolah dapat mengembangkan kurikulum dengan memilih dan menentukan metode pembelajaran untuk proses belajar mengajar. Jadi pendidikan tidak hanya ditekankan pada aspek kognitif saja tetapi juga aspek psikomotor dan afektif.

Penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat, menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, misalnya pembelajaran yang monoton dari waktu ke waktu, guru yang bersifat otoriter dan kurang bersahabat dengan siswa, sehingga siswa akan merasa bosan dan kurang minat belajar. Untuk mengatasi hal tersebut maka guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik harus selalu meningkatkan kualitas profesionalismenya yaitu dengan cara melaksanakan pembelajaran menggunakan metode yang efektif dan efisien sehingga memberi kesempatan belajar kepada siswa dengan melibatkan siswa secara efektif dalam proses pembelajaran. Juga mengupayakan siswa untuk memiliki hubungan yang baik dengan guru, dengan siswa dan juga dengan lingkungan sekitarnya.

Pencapaian standar kompetensi untuk keberhasilan pembelajaran, sangat bergantung pada kemampuan guru untuk mengolah pembelajaran yang dapat menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan titik awal berhasilnya pembelajaran (Semiawan, 1985). Banyaknya teori dan hasil penelitian para ahli pendidikan yang menunjukkan bahwa pembelajaran akan berhasil bila siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dengan dasar ini munculah istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Salah satu pendekatan pembelajaran yang mengakomodasi CBSA adalah pembelajaran dengan pemberian tugas secara berkelompok. Selanjutnya, Dave Meier dalam bukunya The Accelerated Learning menawarkan pembelajaran dengan pendekatan SAVI, dijelaskannya bahwa belajar sambil tidur tidak akan berhasil namun pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar pada pembelajaran (Dave Meier, 2004:91). Georgi Lozanov dalam BobbiDePorter dan Mike Hernacki, melalui penelitiannya ia menyimpulkanf musik barok merupakan musik yang paling membantu percepatan belajar. Beberapa penelitian khususnya penelitian tentang pembelajaran sambil mendengar musik telah dilakukan oleh peneliti asing, namun peneliti/penulis sendiri juga pernah melakukan penelitian ketika bertugas sebagai guru di SMA Negeri 2 Tarakan dan ternyata hasilnya menunjukan peningkatan prestasi belajar siswa. Pembelajaran Berbasis Masalah Menggunakan Musik peneliti kembangkan dari pemikiran nilai–nilai demokrasi, belajar efektif perilaku kerja sama, menghargai keanekaragaman dimasyarakat dan lingkungan belajar yang tepat (suasana nyaman dan damai). Dalam pembelajaran guru harus dapat menciptakan lingkungan belajar sebagai suatu sistem sosial yang memiliki ciri proses demokrasi dan proses ilmiah. Pembelajaran berbasis masalah menggunakan musik merupakan jawaban terhadap praktek pembelajaran kompetensi serta merespon perkembangan dinamika sosial masyarakat. Selain itu pembelajaran berbasis masalah menggunakan musik pada dasarnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari pembelajaran kelompok. Dengan demikian, metode pembelajaran berbasis masalah menggunakan musik memiliki karakteristik yang khas yaitu menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks belajar bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran, dengan memperhatikan kondisi fisiologis siswa sehingga dalam proses belajar mengajar diiringi dengan musik relaksasi yang membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi.

Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dengan situasi berorientasi pada masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar, sedangkan penggunaan musik dijadikan sebagai latar belakang situasi belajar yang dapat membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi. Menurut Ibrahim dan Nur (2000:2 dalam Nurhadi dkk,2004), “ Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Learning (Pembelajaran Proyek), Eksperience-Based Education (Pendidikan Berdasarkan Pengalaman), Authentic learning (Pembelajaran Autentik), dan Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada dunia nyata)”. Peran guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka secara garis besar pembelajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukankan penyelidikan secara inkuiri.

Kaitannya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran dengan pemberian tugas secara berkelompok menjadi salah satu pendekatan yang sebaiknya di kuasai oleh guru baik secara teoritis maupun praktis. Berangkat dari pemikiran tersebut Peneliti memilih judul “Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalui Metode Problem-Based Learning With Music (PBLWM) Pada Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 2 Binsus Tobelo Tahun Pelajaran 2008/2009”

Saya telah melakukan penelitian, gambaran penelitiannya dapat dibaca pada abstraksi